Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran dan Contoh Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) PAUD

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran Umum

Pada akhir fase fondasi, anak menunjukkan kegemaran mempraktikkan dasar-dasar nilai agama dan budi pekerti; kebanggaan terhadap dirinya; dasar-dasar kemampuan literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni untuk membangun sikap positif terhadap belajar dan kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar.

Nilai Agama dan Budi Pekerti

Anak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulai mengenal dan mempraktikkan ajaran pokok sesuai dengan agama dan kepercayaanNya. Anak berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan, kesehatan dan keselamatan diri sebagai bentuk rasa sayang terhadap dirinya dan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Anak menghargai sesama manusia dengan berbagai perbedaannya dan mempraktikkan perilaku baik dan berakhlak mulia. Anak menghargai alam dengan cara merawatnya dan menunjukkan rasa sayang terhadap makhluk hidup yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Jati Diri

Anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi diri serta membangun hubungan sosial secara sehat. Anak mengenal dan memiliki perilaku positif terhadap diri dan lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia) serta rasa bangga sebagai anak Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan, aturan, dan norma yang berlaku. Anak menggunakan fungsi gerak (motorik kasar, halus, dan taktil) untuk mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai objek dan lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri.

Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni

Anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun percakapan. Anak menunjukkan minat, kegemaran, dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca dan pramenulis. Anak mengenali dan menggunakan konsep pramatematika untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Anak menunjukkan kemampuan dasar berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Anak menunjukkan rasa ingin tahu melalui observasi, eksplorasi, dan eksperimen dengan menggunakan lingkungan sekitar dan media sebagai sumber belajar, untuk mendapatkan gagasan mengenai fenomena alam dan sosial. Anak menunjukkan kemampuan awal menggunakan dan merekayasa teknologi serta untuk mencari informasi, gagasan, dan keterampilan secara aman dan bertanggung jawab. Anak mengeksplorasi berbagai proses seni, mengekspresikannya serta mengapresiasi karya seni.

Tentang Mata Pelajaran

Rasional

Penyusunan Capaian Pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat dimaknai sebagai sebuah tanggapan terhadap adanya kebutuhan untuk menguatkan peran PAUD sebagai fondasi jenjang pendidikan dasar. Di samping itu, capaian pembelajaran mampu memberikan kerangka pembelajaran yang memandu pendidik di satuan PAUD dalam memberikan stimulasi yang dibutuhkan oleh anak usia dini. Stimulasi dirancang dengan cara memperkaya lingkungan yang akan menyuburkan interaksi anak dengan lingkungan di sekitar termasuk keberadaan guru dan orangtua. Diharapkan proses stimulasi itu akan memberikan dampak yang optimal pada peningkatan karakter, keterampilan, maupun pengetahuan anak. Stimulasi tersebut dilakukan pada semua aspek perkembangan anak, baik dari aspek moral dan agama, fisik motorik, emosi dan sosial, bahasa, dan kognitif melalui kegiatan bermain. Peran guru dan orangtua pada stimulasi anak usia dini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu guru dan orangtua berfungsi sebagai fasilitator, mentor, dan mitra anak dalam proses perkembangannya. Selanjutnya guru perlu bekerja sama dengan orang tua untuk memastikan keselarasan antara pendidikan di satuan dan di rumah dalam keseharian anak. Kurikulum berdasarkan pendekatan konstruktivistik yang berasal dari teori Piaget dan Vygotsky juga percaya bahwa pembelajaran perlu melibatkan anak dalam interaksi aktif antara diri dan lingkungannya.

Secara umum, dapat dikatakan stimulasi itu bertujuan agar anak dapat bertumbuh kembang optimal secara holistik dan siap bersekolah. Diharapkan mereka kelak menjadi generasi yang mampu memecahkan masalah, kreatif dan inovatif yang berakhlak mulia. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dibangun, agar nantinya dapat membentuk pribadi sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkompetensi global dan berperilaku sesuai nilai- nilai Pancasila. Proses membangun pengetahuannya ketika sedang bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Bermain bagi anak usia dini adalah belajar. Bermain yang alami, spontan, dan muncul dari ide anak merupakan kegiatan belajar yang menyenangkan. Melalui bermain, anak menunjukkan hal-hal yang diketahuinya tentang dunianya. Stimulasi bermain yang berkualitas akan memberikan kesempatan pada anak untuk mampu menunjukkan pengenalan terhadap dirinya sebagai anak Indonesia yang mengimplementasikan nilai Pancasila, kreatif, bugar, sehat dan sejahtera. Anak juga memiliki kesadaran terhadap alam dan lingkungan, mampu berkomunikasi, dan berekspresi melalui seni.

Berikut adalah sejumlah rasional yang mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di jenjang PAUD:

Pertama, memberikan lebih banyak ruang kemerdekaan bagi satuan PAUD untuk menetapkan kebutuhan pengajaran dan pembelajaran. Beragamnya sosial budaya ekonomi dan sumber daya masyarakat Indonesia adalah sinyal bahwa penjabaran mengenai apa yang perlu dipelajari di satuan PAUD harus tetap menyediakan ruang kemerdekaan bagi satuan dan ekosistemnya untuk menentukan bagaimana mereka akan menggunakan sumber dayanya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Capaian Pembelajaran jenjang PAUD hanya menjabarkan capaian yang diharapkan terjadi di akhir pembelajaran di satuan PAUD dan untuk anak selanjutnya memasuki jenjang Pendidikan Sekolah Dasar, sehingga tidak preskriptif (secara mengikat memberikan ketentuan baku) membatasi ragam laju dan kebutuhan anak dalam belajar berdasarkan usia (unik dan tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya) – dan juga tidak preskriptif membatasi rangkaian pembelajaran yang dapat dilakukan satuan.

Kedua, menguatkan transisi PAUD-SD. Kesinambungan pembelajaran di PAUD dan sekolah dasar, adalah peran kunci mengingat periode anak usia dini sebetulnya adalah sejak usia 0-8 tahun (Shonkoff et al, 2016). Fungsi PAUD untuk mendukung kesiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan juga sudah termaktub di dalam Permendikbud No. 146 Tahun 2014. Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD berupaya untuk menempatkan kurikulum PAUD dan sekolah dasar dalam satu lajur pembelajaran (learning progression) sehingga ujung capaian kurikulum adalah titik berangkat di kelas 1 sekolah dasar.

Kesiapan Bersekolah dimaknai sebagai hadirnya hasil interaksi dari tiga dimensi : peserta didik yang siap (ready children), keluarga siap (ready family), dan sekolah yang siap (ready school) (UNICEF, 2012). Sesuai dengan teori Brofenbrenner (1979 dan 1989), ketiga dimensi ini berada dalam sebuah ekosistem besar yang dipengaruhi oleh nilai budaya serta kerangka kebijakan yang berlaku. Kesiapan bersekolah merupakan kondisi yang terus dibangun berdasarkan kemitraan antara satuan PAUD, keluarga, sekolah dasar kelas rendah.

Komponen penting dari kesiapan bersekolah yang dapat didukung satuan PAUD adalah:

  • Kematangan emosi yang cukup untuk mengatasi masalahnya sehari-hari
  • Keterampilan sosial yang memadai untuk berinteraksi sehat dengan teman sebaya
  • Kematangan kognitif yang cukup untuk berkonsentrasi saat bermain-belajar
  • Pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri yang memadai untuk dapat berfungsi secara fisik di lingkungan sekolah secara mandiri.

Ketiga, menguatkan artikulasi penanaman dasar-dasar literasi dan STEAM sejak jenjang PAUD. Literasi dan numerasi dasar tersirat di dalam kurikulum terdahulu namun dalam pelaksanaannya, masih ada satuan yang menghindari penggunaan aspek pembelajaran ini ditengarai karena kekhawatiran terjadinya schoolification (anak belajar secara klasikal di mana fokus lebih ke muatan pembelajaran di ruangan kelas dalam waktu lama dengan kertas dan pensil), sementara penting dalam pembelajarannya anak usia dini untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan. STEAM dihadirkan di PAUD sebagai paradigma berpikir (mindset) dan didukung muatan pembelajaran (learning content) yang melibatkan keingintahuan, perhatian, pemecahan masalah dan keberanian menghadapi tantangan (resiko) dalam proses belajarnya. Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD secara spesifik mengartikulasikan dasar-dasar literasi dan STEAM sebagai bagian dari elemen capaian pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan bermain-belajar, sehingga menjadi aspek perkembangan yang secara eksplisit perlu dikawal melalui metode yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. Dasar-dasar literasi dan STEAM dimaksudkan dibangun sebagai sarana anak mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif, memecahkan masalah, berpikir, bernalar secara fleksibel, dan pengembangan executive function (proses kognitif dan kemampuan untuk meregulasi diri dan perilaku), yang membantu anak lebih siap belajar.

Keempat, lebih memberikan pijakan bagi anak untuk memahami jati dirinya dan dunia. Relevansi PAUD sangat ditentukan oleh manfaat yang dirasakan secara konkret oleh keluarga dan anak. Keluarga perlu melihat jejak dampak dari partisipasi anaknya di PAUD (Smith, 1996) karenanya tujuan dari setiap pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman anak sehari-hari dan kontekstual (selaras dengan nilai sosial budaya lingkungan) sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungannya serta meningkatkan kompetensi dirinya untuk dapat berperan dalam kegiatan sehari-hari. Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD secara spesifik menyerukan pentingnya mendampingi anak dalam menemukan jati dirinya, serta menguatkan pemahamannya terhadap dunia melalui eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

Tujuan Capaian Pembelajaran

Pembelajaran di PAUD adalah pembelajaran yang mengintegrasikan semua aspek perkembangan anak dengan penekanan pada kesejahteraannya. Tujuan capaian pembelajaran di PAUD adalah memberikan arah yang sesuai dengan usia perkembangan anak pada semua aspek perkembangan anak (nilai agama-moral, fisik motorik, emosi- sosial, bahasa, dan kognitif) agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

Karakteristik Pembelajaran PAUD

Pembelajaran di PAUD memiliki karakteristik yang memandang setiap anak dipandang unik dan memiliki potensi (kelebihan/kekuatan) masing-masing sehingga memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui dalam lingkungan yang dirancang dengan cermat di mana stimulasi bermain diberikan dan pembelajaran disediakan oleh pendidik. Scaffolding (perancah, dukungan belajar secara terstruktur) sangat penting diberikan pendidik seperti terlibat dalam percakapan sehari-hari dengan setiap anak, yang seiring waktu akan memberikan tantangan, dukungan dan bimbingan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan motorik, keterampilan sosial dan nilai-nilai moral, keterampilan bahasa lisan dan kemampuan anak untuk secara produktif memikirkan dan mengeksplorasi lingkungan.

Pembelajaran di PAUD perlu memperhatikan beberapa karakteristik spesifik yaitu:

  1. Mendukung terbentuknya kesejahteraan (well-being) anak.
  2. Menghargai dan menghormati anak.
  3. Mendorong rasa ingin tahu anak.
  4. Menyesuaikan dengan usia, tahap perkembangan, minat dan kebutuhan anak.
  5. Memberikan stimulasi secara holistik integratif
  6. Memberikan tantangan, bimbingan, dan dukungan pada pembelajaran tiap anak melalui percakapan dan interaksi bermakna dengan tiap anak
  7. Melibatkan keluarga sebagai mitra
  8. Memanfaatkan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar
  9. Menggunakan penilaian otentik (penilaian yang diperoleh bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran).

Lingkup Capaian Pembelajaran

Lingkup capaian pembelajaran di PAUD mencakup tiga elemen stimulasi yang saling terintegrasi. Tiga elemen stimulasi tersebut merupakan elaborasi lima aspek perkembangan anak (nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosi, dan bahasa) dan bidang- bidang lain untuk optimalisasi tumbuh kembang anak sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad 21 dalam konteks Indonesia. Tiap elemen stimulasi mengeksplorasi aspek-aspek perkembangan secara utuh dan tidak terpisah. Ketiga elemen stimulasi tersebut adalah: 1) Nilai agama dan budi pekerti, yang mencakup kemampuan dasar-dasar agama dan akhlak mulia; 2) Jati diri mencakup pengenalan jati diri anak Indonesia yang sehat secara emosi dan sosial dan berlandaskan Pancasila, serta memiliki kemandirian fisik. 3) Dasar-dasar Literasi dan Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni dan Matematika yang mencakup kemampuan memahami berbagai informasi dan berkomunikasi serta berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca. Juga kemampuan dasar berpikir STEAM untuk membangun anak yang kreatif dan mampu memecahkan masalah.